Sejarah Penemuan & Restorasi Candi Borobudur
Kisah lengkap penemuan kembali Candi Borobudur oleh Raffles (1814), foto-foto bersejarah Van Kinsbergen, restorasi Van Erp 1907-1911
Sejarah Penemuan & Restorasi Candi Borobudur
Dari penemuan kembali oleh Raffles (1814) hingga restorasi besar UNESCO — kisah 200 tahun penyelamatan mahakarya dunia
📑 Daftar Isi Artikel ▼
Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia, mengalami perjalanan panjang dari terkubur selama berabad-abad hingga diakui sebagai Warisan Budaya Dunia. Berikut kronologi lengkap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah penemuannya.
| Tahun | Peristiwa Penting |
|---|---|
| Abad ke-11 | Borobudur mulai ditinggalkan setelah pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur; candi tertimbun abu vulkanik Gunung Merapi dan tertutup vegetasi |
| 1814 | Ditemukan kembali atas perintah Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles; insinyur H.C. Cornelius memimpin pembersihan |
| 1835 | Christiaan Lodewijk Hartmann menyelesaikan penggalian seluruh kompleks candi |
| 1849–1853 | F.C. Wilsen membuat ratusan sketsa detail relief dan arsitektur Borobudur |
| 1872–1873 | Isidore van Kinsbergen mengambil foto pertama Candi Borobudur — dokumentasi fotografi tertua yang masih ada |
| 1885 | J.W. IJzerman menemukan hidden foot (kaki tersembunyi) dengan 160 panel relief Karmawibhangga |
| 1890–1891 | Kassian Cephas, fotografer pribumi pertama, mendokumentasikan relief hidden foot secara lengkap |
| 1907–1911 | Restorasi pertama di bawah pimpinan insinyur Belanda Theodor van Erp; 300.000+ batu dikerjakan ulang |
| 1973 | Kampanye internasional UNESCO dimulai untuk menyelamatkan Borobudur |
| 1975–1982 | Restorasi besar-besaran oleh UNESCO dan pemerintah Indonesia; 1.000.000+ blok batu dibongkar dan dipasang kembali |
| 23 Feb 1983 | Presiden Soeharto meresmikan selesainya restorasi Borobudur |
| 1991 | Ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site (Borobudur Temple Compounds) |
| 2017 | Arsip dokumentasi restorasi 1973–1983 ditetapkan sebagai UNESCO Memory of the World |
Arsip pemugaran Candi Borobudur 1973–1983 berisi 650.000 item arsip, termasuk 75.000 foto dan puluhan ribu negatif film. Koleksi ini ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017 — salah satu arsip konservasi paling lengkap di dunia.
Setelah berabad-abad terkubur di bawah lapisan abu vulkanik dan hutan tropis yang lebat, Candi Borobudur kembali muncul ke permukaan pada awal abad ke-19 berkat keingintahuan seorang gubernur Inggris.
Pada tahun 1811, Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal Britania atas wilayah Hindia Belanda selama Perang Napoleon. Raffles memiliki ketertarikan besar terhadap sejarah dan budaya Jawa. Pada 1814, ia menerima laporan dari pejabat lokal tentang keberadaan monumen raksasa yang tersembunyi di tengah hutan dekat desa Bumisegoro.
Raffles segera mengirimkan Hermann Christiaan Cornelius (1774–1833), seorang insinyur Belanda yang sebelumnya telah berhasil mengungkap kompleks Candi Sewu pada 1806–1807. Bersama 200 pekerja, Cornelius mulai menebang pohon, membakar semak belukar, dan menggali tanah yang menimbun monumen tersebut.
Cornelius menyelesaikan pembersihan awal dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, ia tidak bisa menggali seluruh galeri karena risiko runtuh. Hasil temuannya dilaporkan kepada Raffles beserta gambar-gambar sketsa detail. Meskipun Raffles sendiri tidak pernah mengunjungi situs tersebut, ia mencatat penemuan ini dalam bukunya The History of Java (1817) — menjadikannya orang yang dikreditkan membawa Borobudur ke perhatian dunia internasional.
Raffles sebenarnya tidak pernah mengunjungi Borobudur secara langsung. Seluruh informasi yang ia tulis di The History of Java berasal dari laporan dan sketsa Cornelius. Namun karena buku ini dibaca luas di Eropa, Raffles yang mendapat kredit atas "penemuan" candi.
Setelah kepergian Raffles dari Jawa pada 1816, penggalian dilanjutkan oleh Christiaan Lodewijk Hartmann, residen wilayah Kedu. Hartmann melanjutkan pekerjaan Cornelius secara pribadi — tanpa menulis laporan resmi. Pada 1835, ia berhasil menggali seluruh kompleks candi. Pada 1842, Hartmann menyelidiki kubah utama (stupa induk), meskipun apa yang ia temukan di dalamnya masih menjadi misteri hingga kini — stupa utama tersebut kosong.
Setelah ditemukan kembali, Borobudur menarik perhatian para ilmuwan, seniman, dan fotografer Eropa. Dokumentasi mereka menjadi catatan visual tak ternilai tentang kondisi candi sebelum restorasi besar.
Gambar-gambar paling awal Candi Borobudur adalah sketsa tangan oleh H.C. Cornelius sekitar tahun 1814. Sketsa ini kini tersimpan di koleksi The British Museum di London. Cornelius menggambar bentuk umum monumen, deretan stupa, dan beberapa detail arsitektur yang ia temukan selama penggalian awal.
Pemerintah Hindia Belanda menugaskan seniman F.C. Wilsen untuk membuat dokumentasi visual yang lebih lengkap. Selama empat tahun, Wilsen menghasilkan ratusan sketsa detail tentang relief, arca, dan arsitektur Borobudur. Karya Wilsen, bersama riset J.F.G. Brumund, menjadi dasar monografi ilmiah pertama tentang Borobudur yang disusun oleh Conradus Leemans dan diterbitkan pada 1873.
Momen bersejarah terjadi pada 1872 ketika fotografer Belgia-Belanda Isidore van Kinsbergen mengambil foto pertama Candi Borobudur. Foto-foto ini menunjukkan kondisi candi yang masih belum sepenuhnya terbebas dari vegetasi, dengan bendera Belanda berkibar di puncak stupa utama — simbol klaim kolonial atas monumen tersebut.
Pada 1890–1891, Kassian Cephas, seorang fotografer Jawa yang bekerja untuk Keraton Yogyakarta, mendokumentasikan Borobudur secara ekstensif. Cephas dikenal sebagai salah satu fotografer pribumi pertama di Indonesia. Fotonya memberikan perspektif unik dari mata seorang putra tanah Jawa sendiri, bukan pandangan kolonial.
Kassian Cephas bukan hanya fotografer — ia juga seorang juru bahasa dan penasihat budaya. Foto-fotonya tentang relief hidden foot Borobudur menjadi satu-satunya dokumentasi visual lengkap sebelum kaki tersembunyi ditutup kembali untuk keamanan struktural.
Setelah hampir satu abad sejak penemuannya kembali, kondisi Candi Borobudur terus memburuk. Pemerintah kolonial Belanda akhirnya memutuskan untuk melakukan restorasi sistematis pertama di bawah pimpinan seorang insinyur militer berpengalaman.
Theodor van Erp (1874–1958) adalah seorang insinyur tentara Belanda dengan pelatihan arkeologi. Ia ditugaskan memimpin pemugaran yang berfokus pada tiga teras lingkaran atas dan stupa induk. Proyek ini berlangsung selama empat tahun dengan anggaran yang signifikan dari pemerintah Hindia Belanda.
Tim Van Erp membongkar dan merekonstruksi tiga teras lingkaran atas beserta stupa induk. Mereka merestorasi lebih dari 300.000 batu, membersihkan seluruh relief, memperbaiki sistem drainase, dan mendokumentasikan setiap langkah secara fotografis. Van Erp juga sempat memasang kembali chattra (payung batu tiga tingkat) di puncak stupa utama, meskipun kemudian dilepas lagi karena tidak ada bukti arkeologis yang cukup kuat.
Restorasi Van Erp dianggap terobosan untuk zamannya dan berhasil menyelamatkan Borobudur dari ancaman keruntuhan. Namun, keterbatasan teknologi saat itu membuat beberapa masalah mendasar — terutama sistem drainase — belum terselesaikan sepenuhnya. Hal ini menyebabkan kerusakan berkelanjutan selama dekade-dekade berikutnya.
- Karya standar "Beschrijving van Barabudur" (1920–1931) yang ditulis bersama N.J. Krom menjadi referensi utama studi Borobudur hingga kini
- Sistem katalogisasi relief yang dibuat Van Erp masih digunakan oleh arkeolog modern
- 122 foto dokumentasi Van Erp tersimpan di koleksi Tropenmuseum (kini Museum Dunia, Amsterdam)
Setelah restorasi Van Erp, kondisi Borobudur kembali memburuk selama paruh pertama abad ke-20 — melewati dua perang dunia dan era revolusi kemerdekaan Indonesia. Pada 1960-an, situasinya sudah "gawat" menurut para ahli.
Pada tahun 1968, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk menyelamatkan Borobudur. UNESCO merespons dengan meluncurkan kampanye internasional "Save Borobudur" pada 1972–1973. Ini menjadi salah satu proyek pelestarian budaya terbesar dalam sejarah dunia.
| Data Proyek Restorasi UNESCO 1975–1982 | |
|---|---|
| 💰 Total Biaya | USD 25 juta (setara ±USD 100 juta pada 2026) |
| 🌍 Negara Terlibat | 28 negara — pembiayaan & asistensi teknis |
| 🧱 Batu Dibongkar | Lebih dari 1.000.000 blok batu andesit |
| ⏱ Durasi | 10 tahun (1973 persiapan, 1975–1982 eksekusi, 1983 peresmian) |
| 📸 Dokumentasi | 650.000 item arsip — 75.000 foto, 60.000+ negatif film, gambar teknis, rol film seluloid |
| 🔧 Teknologi | Sistem drainase baru, lapisan pelindung batu, komputer untuk katalogisasi |
Seluruh blok batu pada lima teras persegi (Rupadhatu) dibongkar satu per satu, setiap batu dicatat posisinya, dibersihkan, diberi perlakuan kimia anti-pelapukan, lalu dipasang kembali di atas fondasi beton baru dengan sistem drainase modern. Proses ini memastikan air hujan tidak lagi meresap dan merusak struktur dari dalam.
Restorasi UNESCO memperkenalkan teknologi mutakhir pada masanya: lapisan pelindung silikon untuk mengurangi penyerapan air, fondasi beton bertulang sebagai pengganti fondasi tanah asli, serta sistem komputer katalogisasi untuk mencatat posisi setiap blok batu. Ini menjadi standar baru bagi proyek konservasi monumen di seluruh dunia.
- Ratusan pekerja lokal dari desa-desa sekitar Borobudur terlibat selama 10 tahun — sebagian menjadi ahli konservasi batu
- Werdi, seorang pekerja restorasi, mengabdikan 50 tahun hidupnya untuk merawat Borobudur. Kini ilmunya diwariskan ke putranya, Eka Sumitra
- Balai Konservasi Borobudur (BKB) didirikan untuk perawatan jangka panjang pasca-restorasi
Keberhasilan restorasi membuka jalan bagi pengakuan internasional tertinggi — penetapan Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia dan arsipnya sebagai Ingatan Kolektif Dunia.
Pada 1991, UNESCO secara resmi menetapkan Borobudur Temple Compounds — yang mencakup Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon — sebagai World Heritage Site di bawah Kriteria (i), (ii), dan (vi). Penetapan ini mengakui Borobudur sebagai mahakarya jenius kreatif manusia dan monumen yang memiliki nilai universal luar biasa.
Pada 2017, UNESCO memberikan penghargaan kedua: arsip dokumentasi restorasi Borobudur 1973–1983 ditetapkan sebagai Memory of the World (Ingatan Kolektif Dunia). Ini adalah pengakuan atas kelengkapan dan signifikansi global arsip tersebut — mencatat bagaimana 28 negara bekerja sama menyelamatkan warisan budaya umat manusia.
Borobudur adalah salah satu dari sedikit situs di dunia yang memiliki dua penghargaan UNESCO sekaligus: World Heritage Site (1991) untuk candinya, dan Memory of the World (2017) untuk arsip restorasinya. Ini menjadikan Borobudur memiliki posisi istimewa dalam sejarah pelestarian budaya global.
Koleksi foto-foto historis dari berbagai era — mulai dari dokumentasi kolonial hingga restorasi besar — yang mengabadikan perjalanan panjang penyelamatan Candi Borobudur.
Terletak di dalam kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, museum ini menyimpan artefak, foto dokumentasi restorasi, dan reproduksi relief kaki tersembunyi yang tidak bisa dilihat langsung di candi.
Museum Karmawibhangga dinamai berdasarkan teks Mahakarmawibhangga yang menjadi tema 160 panel relief pada kaki tersembunyi. Di museum ini pengunjung dapat melihat:
Arca Buddha raksasa yang ditemukan belum rampung — kemungkinan disiapkan sebagai isi stupa utama namun tidak pernah diselesaikan.
Mastaka atau puncak payung tiga tingkat dari stupa utama — pernah dipasang oleh Van Erp kemudian dilepas lagi.
Reproduksi foto-foto dari arsip 650.000 item yang kini berstatus UNESCO Memory of the World.
Foto ukuran penuh dari 160 panel relief Karmawibhangga yang ditutup di kaki candi.
- Museum sudah termasuk dalam Temple Ground Ticket — tidak perlu tiket tambahan
- Kunjungi museum sebelum naik ke candi agar lebih memahami konteks relief dan arsitektur
- Luangkan waktu minimal 30 menit untuk melihat seluruh koleksi
- Tersedia pemandu museum yang bisa menjelaskan dalam bahasa Indonesia dan Inggris
Cara terbaik menghayati Borobudur bukan hanya sebagai wisata foto, tetapi juga memahami perjalanan panjang penemuan dan pemugarannya.
Sudut tenggara candi memiliki bukaan permanen yang menampilkan 4 panel relief asli Karmawibhangga. Satu-satunya kesempatan melihat kaki tersembunyi secara langsung.
Kunjungi museum terlebih dahulu untuk konteks sejarah. Pengalaman di candi akan jauh lebih bermakna setelah memahami cerita di balik setiap batu.
Ikuti arah jarum jam (pradaksina) saat membaca relief — dimulai dari pintu masuk sisi timur. Ini adalah cara membaca yang benar sesuai tradisi Buddha.
Simpan foto-foto historis di ponsel Anda sebelum berkunjung. Bandingkan kondisi candi dahulu dan sekarang — perbedaannya mengagumkan!
Batu-batu yang dipasang saat restorasi Van Erp vs UNESCO memiliki karakteristik berbeda. Pemandu berpengalaman bisa menunjukkan perbedaannya.
Tersedia versi digital dan terjemahan Indonesia. Membaca deskripsi pertama Borobudur oleh orang Eropa memberikan perspektif unik tentang penemuan candi.
Kunjungi Candi Borobudur dan hayati sendiri monumen yang telah menyaksikan lebih dari 1.200 tahun sejarah umat manusia.
🎟️ Pesan Tiket Resmi 🏛️ UNESCO Profile