Foto historis Candi Borobudur tahun 1873 oleh Isidore van Kinsbergen dengan bendera Belanda di puncak stupa utama
Arsip Sejarah & Dokumentasi

Sejarah Penemuan & Restorasi Candi Borobudur

Dari penemuan kembali oleh Raffles (1814) hingga restorasi besar UNESCO — kisah 200 tahun penyelamatan mahakarya dunia

📑 Daftar Isi Artikel
Timeline Overview
Kronologi Penemuan & Restorasi

Candi Borobudur, monumen Buddha terbesar di dunia, mengalami perjalanan panjang dari terkubur selama berabad-abad hingga diakui sebagai Warisan Budaya Dunia. Berikut kronologi lengkap peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah penemuannya.

TahunPeristiwa Penting
Abad ke-11Borobudur mulai ditinggalkan setelah pusat kekuasaan berpindah ke Jawa Timur; candi tertimbun abu vulkanik Gunung Merapi dan tertutup vegetasi
1814Ditemukan kembali atas perintah Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles; insinyur H.C. Cornelius memimpin pembersihan
1835Christiaan Lodewijk Hartmann menyelesaikan penggalian seluruh kompleks candi
1849–1853F.C. Wilsen membuat ratusan sketsa detail relief dan arsitektur Borobudur
1872–1873Isidore van Kinsbergen mengambil foto pertama Candi Borobudur — dokumentasi fotografi tertua yang masih ada
1885J.W. IJzerman menemukan hidden foot (kaki tersembunyi) dengan 160 panel relief Karmawibhangga
1890–1891Kassian Cephas, fotografer pribumi pertama, mendokumentasikan relief hidden foot secara lengkap
1907–1911Restorasi pertama di bawah pimpinan insinyur Belanda Theodor van Erp; 300.000+ batu dikerjakan ulang
1973Kampanye internasional UNESCO dimulai untuk menyelamatkan Borobudur
1975–1982Restorasi besar-besaran oleh UNESCO dan pemerintah Indonesia; 1.000.000+ blok batu dibongkar dan dipasang kembali
23 Feb 1983Presiden Soeharto meresmikan selesainya restorasi Borobudur
1991Ditetapkan sebagai UNESCO World Heritage Site (Borobudur Temple Compounds)
2017Arsip dokumentasi restorasi 1973–1983 ditetapkan sebagai UNESCO Memory of the World
💡 Tahukah Kamu?

Arsip pemugaran Candi Borobudur 1973–1983 berisi 650.000 item arsip, termasuk 75.000 foto dan puluhan ribu negatif film. Koleksi ini ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2017 — salah satu arsip konservasi paling lengkap di dunia.

Rediscovery 1814
Penemuan Kembali oleh Raffles (1814)

Setelah berabad-abad terkubur di bawah lapisan abu vulkanik dan hutan tropis yang lebat, Candi Borobudur kembali muncul ke permukaan pada awal abad ke-19 berkat keingintahuan seorang gubernur Inggris.

Pada tahun 1811, Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur Jenderal Britania atas wilayah Hindia Belanda selama Perang Napoleon. Raffles memiliki ketertarikan besar terhadap sejarah dan budaya Jawa. Pada 1814, ia menerima laporan dari pejabat lokal tentang keberadaan monumen raksasa yang tersembunyi di tengah hutan dekat desa Bumisegoro.

Raffles segera mengirimkan Hermann Christiaan Cornelius (1774–1833), seorang insinyur Belanda yang sebelumnya telah berhasil mengungkap kompleks Candi Sewu pada 1806–1807. Bersama 200 pekerja, Cornelius mulai menebang pohon, membakar semak belukar, dan menggali tanah yang menimbun monumen tersebut.

📜 Fakta Penemuan Kembali

Cornelius menyelesaikan pembersihan awal dalam waktu sekitar dua bulan. Namun, ia tidak bisa menggali seluruh galeri karena risiko runtuh. Hasil temuannya dilaporkan kepada Raffles beserta gambar-gambar sketsa detail. Meskipun Raffles sendiri tidak pernah mengunjungi situs tersebut, ia mencatat penemuan ini dalam bukunya The History of Java (1817) — menjadikannya orang yang dikreditkan membawa Borobudur ke perhatian dunia internasional.

💡 Tahukah Kamu?

Raffles sebenarnya tidak pernah mengunjungi Borobudur secara langsung. Seluruh informasi yang ia tulis di The History of Java berasal dari laporan dan sketsa Cornelius. Namun karena buku ini dibaca luas di Eropa, Raffles yang mendapat kredit atas "penemuan" candi.

Setelah kepergian Raffles dari Jawa pada 1816, penggalian dilanjutkan oleh Christiaan Lodewijk Hartmann, residen wilayah Kedu. Hartmann melanjutkan pekerjaan Cornelius secara pribadi — tanpa menulis laporan resmi. Pada 1835, ia berhasil menggali seluruh kompleks candi. Pada 1842, Hartmann menyelidiki kubah utama (stupa induk), meskipun apa yang ia temukan di dalamnya masih menjadi misteri hingga kini — stupa utama tersebut kosong.

First Photographs
Dokumentasi Awal & Foto Pertama (1840–1890)

Setelah ditemukan kembali, Borobudur menarik perhatian para ilmuwan, seniman, dan fotografer Eropa. Dokumentasi mereka menjadi catatan visual tak ternilai tentang kondisi candi sebelum restorasi besar.

Sketsa Cornelius (c. 1814)

Gambar-gambar paling awal Candi Borobudur adalah sketsa tangan oleh H.C. Cornelius sekitar tahun 1814. Sketsa ini kini tersimpan di koleksi The British Museum di London. Cornelius menggambar bentuk umum monumen, deretan stupa, dan beberapa detail arsitektur yang ia temukan selama penggalian awal.

Sketsa F.C. Wilsen (1849–1853)

Pemerintah Hindia Belanda menugaskan seniman F.C. Wilsen untuk membuat dokumentasi visual yang lebih lengkap. Selama empat tahun, Wilsen menghasilkan ratusan sketsa detail tentang relief, arca, dan arsitektur Borobudur. Karya Wilsen, bersama riset J.F.G. Brumund, menjadi dasar monografi ilmiah pertama tentang Borobudur yang disusun oleh Conradus Leemans dan diterbitkan pada 1873.

Foto Pertama oleh Van Kinsbergen (1872–1873)

Momen bersejarah terjadi pada 1872 ketika fotografer Belgia-Belanda Isidore van Kinsbergen mengambil foto pertama Candi Borobudur. Foto-foto ini menunjukkan kondisi candi yang masih belum sepenuhnya terbebas dari vegetasi, dengan bendera Belanda berkibar di puncak stupa utama — simbol klaim kolonial atas monumen tersebut.

Foto pertama Candi Borobudur oleh Isidore van Kinsbergen tahun 1873 menunjukkan kondisi candi dengan bendera Belanda di stupa utama
Foto oleh Isidore van Kinsbergen (c. 1873) — Foto tertua Candi Borobudur yang masih ada. Perhatikan bendera Belanda di puncak stupa utama📷 Arsip 1873
Arca Buddha Amitabha di sisi barat Candi Borobudur difoto oleh Van Kinsbergen sekitar 1863-1866
Arca Buddha Amitabha di sisi barat Borobudur — difoto Van Kinsbergen c. 1863–1866, salah satu foto arca Buddha tertua📷 Arsip c. 1863
Kassian Cephas — Fotografer Pribumi Pertama (1890–1891)

Pada 1890–1891, Kassian Cephas, seorang fotografer Jawa yang bekerja untuk Keraton Yogyakarta, mendokumentasikan Borobudur secara ekstensif. Cephas dikenal sebagai salah satu fotografer pribumi pertama di Indonesia. Fotonya memberikan perspektif unik dari mata seorang putra tanah Jawa sendiri, bukan pandangan kolonial.

💡 Tahukah Kamu?

Kassian Cephas bukan hanya fotografer — ia juga seorang juru bahasa dan penasihat budaya. Foto-fotonya tentang relief hidden foot Borobudur menjadi satu-satunya dokumentasi visual lengkap sebelum kaki tersembunyi ditutup kembali untuk keamanan struktural.

First Restoration
Restorasi Pertama — Theodor van Erp (1907–1911)

Setelah hampir satu abad sejak penemuannya kembali, kondisi Candi Borobudur terus memburuk. Pemerintah kolonial Belanda akhirnya memutuskan untuk melakukan restorasi sistematis pertama di bawah pimpinan seorang insinyur militer berpengalaman.

Theodor van Erp (1874–1958) adalah seorang insinyur tentara Belanda dengan pelatihan arkeologi. Ia ditugaskan memimpin pemugaran yang berfokus pada tiga teras lingkaran atas dan stupa induk. Proyek ini berlangsung selama empat tahun dengan anggaran yang signifikan dari pemerintah Hindia Belanda.

🔧 Ruang Lingkup Restorasi Van Erp

Tim Van Erp membongkar dan merekonstruksi tiga teras lingkaran atas beserta stupa induk. Mereka merestorasi lebih dari 300.000 batu, membersihkan seluruh relief, memperbaiki sistem drainase, dan mendokumentasikan setiap langkah secara fotografis. Van Erp juga sempat memasang kembali chattra (payung batu tiga tingkat) di puncak stupa utama, meskipun kemudian dilepas lagi karena tidak ada bukti arkeologis yang cukup kuat.

Foto dokumentasi Candi Borobudur oleh Theodor van Erp sekitar 1907-1911 dari koleksi Tropenmuseum
Dokumentasi Borobudur oleh Theodor van Erp (c. 1907–1911) — Koleksi Tropenmuseum, Amsterdam📷 Arsip Van Erp
Foto Candi Borobudur dari arsip Theodor van Erp koleksi Tropenmuseum menunjukkan kondisi candi selama restorasi
Kondisi Borobudur selama restorasi Van Erp — tampak stupa-stupa yang sedang dalam proses pemugaran📷 Arsip Van Erp

Restorasi Van Erp dianggap terobosan untuk zamannya dan berhasil menyelamatkan Borobudur dari ancaman keruntuhan. Namun, keterbatasan teknologi saat itu membuat beberapa masalah mendasar — terutama sistem drainase — belum terselesaikan sepenuhnya. Hal ini menyebabkan kerusakan berkelanjutan selama dekade-dekade berikutnya.

📌 Warisan Van Erp
  • Karya standar "Beschrijving van Barabudur" (1920–1931) yang ditulis bersama N.J. Krom menjadi referensi utama studi Borobudur hingga kini
  • Sistem katalogisasi relief yang dibuat Van Erp masih digunakan oleh arkeolog modern
  • 122 foto dokumentasi Van Erp tersimpan di koleksi Tropenmuseum (kini Museum Dunia, Amsterdam)
Panorama Candi Borobudur dari koleksi Tropenmuseum foto oleh Theodor van Erp
Panorama Borobudur oleh Van Erp — candi tampak setelah pembersihan namun sebelum restorasi penuh selesai📷 Panorama Arsip
Hidden Foot Discovery
Penemuan Kaki Tersembunyi (Hidden Foot)

Salah satu misteri terbesar Borobudur terungkap pada 1885 ketika seorang insinyur Belanda menemukan bahwa kaki candi menyembunyikan 160 panel relief yang sengaja ditutup oleh para pembangun aslinya.

Pada 1885, J.W. IJzerman, ketua Perhimpunan Arkeologi di Yogyakarta, menemukan bahwa dasar Candi Borobudur memiliki kaki tersembunyi (verborgen voet) yang tertutup oleh struktur batu tambahan. Di balik penutup ini terdapat 160 panel relief yang menggambarkan Mahakarmawibhangga — teks Buddha tentang hukum karma (sebab-akibat).

📜 Relief Karmawibhangga

Relief ini menggambarkan hukum karma: perbuatan baik menghasilkan akibat baik, perbuatan buruk menghasilkan akibat buruk. Panel O 1–117 menggambarkan beragam perbuatan yang mengarah pada satu akibat, sedangkan panel O 118–160 menunjukkan berbagai akibat dari satu sebab. Identifikasi teksnya sebagai Mahakarmawibhangga baru dilakukan pada 1929 oleh sarjana Prancis Sylvain Lévi, berdasarkan manuskrip tahun 1411 yang ia temukan di Kathmandu, Nepal pada 1922.

Setelah didokumentasikan secara fotografis oleh Kassian Cephas pada 1890–1891, kaki tersembunyi ditutup kembali untuk menjaga stabilitas struktural candi. Saat ini, hanya satu sudut tenggara yang dibuka permanen untuk pengunjung, sehingga publik tetap bisa melihat empat panel relief asli.

Arca Buddha yang belum selesai dan mastaka chattra stupa utama di Museum Karmawibhangga dekat Candi Borobudur
Arca Buddha yang belum selesai dan puncak chattra stupa utama — kini dipamerkan di Museum Karmawibhangga📷 Museum
💡 Tahukah Kamu?

Mengapa kaki tersembunyi ditutup? Teori yang paling diterima: penutupan dilakukan untuk menambah beban pada fondasi guna mencegah longsoran. Borobudur dibangun di atas bukit alami, dan tanpa penyangga tambahan, teras-teras bawah berisiko ambruk. Jadi penutupan ini bukan untuk menyembunyikan konten, melainkan solusi teknis.

UNESCO Restoration
Restorasi Besar UNESCO (1975–1982)

Setelah restorasi Van Erp, kondisi Borobudur kembali memburuk selama paruh pertama abad ke-20 — melewati dua perang dunia dan era revolusi kemerdekaan Indonesia. Pada 1960-an, situasinya sudah "gawat" menurut para ahli.

Pada tahun 1968, pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk menyelamatkan Borobudur. UNESCO merespons dengan meluncurkan kampanye internasional "Save Borobudur" pada 1972–1973. Ini menjadi salah satu proyek pelestarian budaya terbesar dalam sejarah dunia.

Skala Proyek Restorasi
Data Proyek Restorasi UNESCO 1975–1982
💰 Total BiayaUSD 25 juta (setara ±USD 100 juta pada 2026)
🌍 Negara Terlibat28 negara — pembiayaan & asistensi teknis
🧱 Batu DibongkarLebih dari 1.000.000 blok batu andesit
Durasi10 tahun (1973 persiapan, 1975–1982 eksekusi, 1983 peresmian)
📸 Dokumentasi650.000 item arsip — 75.000 foto, 60.000+ negatif film, gambar teknis, rol film seluloid
🔧 TeknologiSistem drainase baru, lapisan pelindung batu, komputer untuk katalogisasi
Sketsa rencana restorasi Borobudur 1973 oleh UNESCO menunjukkan sistem drainase baru
Sketsa rencana restorasi UNESCO 1973 — menunjukkan peningkatan sistem drainase yang menjadi fokus utama proyek📐 Diagram UNESCO

Seluruh blok batu pada lima teras persegi (Rupadhatu) dibongkar satu per satu, setiap batu dicatat posisinya, dibersihkan, diberi perlakuan kimia anti-pelapukan, lalu dipasang kembali di atas fondasi beton baru dengan sistem drainase modern. Proses ini memastikan air hujan tidak lagi meresap dan merusak struktur dari dalam.

Presiden Soeharto meresmikan selesainya restorasi Candi Borobudur pada 23 Februari 1983
Presiden Soeharto meresmikan selesainya restorasi Borobudur (23 Februari 1983) — momen bersejarah setelah 10 tahun proyek penyelamatan📷 Arsip Pemerintah RI
🔬 Inovasi Teknologi

Restorasi UNESCO memperkenalkan teknologi mutakhir pada masanya: lapisan pelindung silikon untuk mengurangi penyerapan air, fondasi beton bertulang sebagai pengganti fondasi tanah asli, serta sistem komputer katalogisasi untuk mencatat posisi setiap blok batu. Ini menjadi standar baru bagi proyek konservasi monumen di seluruh dunia.

📌 Keterlibatan Indonesia
  • Ratusan pekerja lokal dari desa-desa sekitar Borobudur terlibat selama 10 tahun — sebagian menjadi ahli konservasi batu
  • Werdi, seorang pekerja restorasi, mengabdikan 50 tahun hidupnya untuk merawat Borobudur. Kini ilmunya diwariskan ke putranya, Eka Sumitra
  • Balai Konservasi Borobudur (BKB) didirikan untuk perawatan jangka panjang pasca-restorasi
World Heritage
Penetapan UNESCO & Memory of the World

Keberhasilan restorasi membuka jalan bagi pengakuan internasional tertinggi — penetapan Borobudur sebagai Warisan Budaya Dunia dan arsipnya sebagai Ingatan Kolektif Dunia.

Pada 1991, UNESCO secara resmi menetapkan Borobudur Temple Compounds — yang mencakup Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon — sebagai World Heritage Site di bawah Kriteria (i), (ii), dan (vi). Penetapan ini mengakui Borobudur sebagai mahakarya jenius kreatif manusia dan monumen yang memiliki nilai universal luar biasa.

Prasasti UNESCO World Heritage di Candi Borobudur yang diresmikan tahun 1991
Prasasti resmi UNESCO World Heritage Site di kompleks Candi Borobudur — diresmikan tahun 1991📷 UNESCO Plaque
UNESCO Memory of the World (2017)

Pada 2017, UNESCO memberikan penghargaan kedua: arsip dokumentasi restorasi Borobudur 1973–1983 ditetapkan sebagai Memory of the World (Ingatan Kolektif Dunia). Ini adalah pengakuan atas kelengkapan dan signifikansi global arsip tersebut — mencatat bagaimana 28 negara bekerja sama menyelamatkan warisan budaya umat manusia.

💡 Tahukah Kamu?

Borobudur adalah salah satu dari sedikit situs di dunia yang memiliki dua penghargaan UNESCO sekaligus: World Heritage Site (1991) untuk candinya, dan Memory of the World (2017) untuk arsip restorasinya. Ini menjadikan Borobudur memiliki posisi istimewa dalam sejarah pelestarian budaya global.

Historical Gallery
Galeri Foto Bersejarah

Koleksi foto-foto historis dari berbagai era — mulai dari dokumentasi kolonial hingga restorasi besar — yang mengabadikan perjalanan panjang penyelamatan Candi Borobudur.

Foto historis kompleks Candi Borobudur dari koleksi Tropenmuseum era kolonial Belanda
Kompleks Candi Borobudur — Koleksi Tropenmuseum, era kolonial Belanda (c. 1873)📷 Koleksi Tropenmuseum
Kartu pos antik bergambar Candi Borobudur dari era Hindia Belanda
Kartu pos antik Borobudur — arsip era Hindia Belanda, menunjukkan candi sebagai objek wisata kolonial📷 Kartu Pos Antik
Koleksi Multi-Era
Museum
Museum Karmawibhangga

Terletak di dalam kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, museum ini menyimpan artefak, foto dokumentasi restorasi, dan reproduksi relief kaki tersembunyi yang tidak bisa dilihat langsung di candi.

Museum Karmawibhangga dinamai berdasarkan teks Mahakarmawibhangga yang menjadi tema 160 panel relief pada kaki tersembunyi. Di museum ini pengunjung dapat melihat:

🧘
Arca Buddha Belum Selesai

Arca Buddha raksasa yang ditemukan belum rampung — kemungkinan disiapkan sebagai isi stupa utama namun tidak pernah diselesaikan.

☂️
Chattra (Payung Batu)

Mastaka atau puncak payung tiga tingkat dari stupa utama — pernah dipasang oleh Van Erp kemudian dilepas lagi.

📸
Foto Dokumentasi Restorasi

Reproduksi foto-foto dari arsip 650.000 item yang kini berstatus UNESCO Memory of the World.

🖼️
Reproduksi Relief Hidden Foot

Foto ukuran penuh dari 160 panel relief Karmawibhangga yang ditutup di kaki candi.

📌 Tips Mengunjungi Museum
  • Museum sudah termasuk dalam Temple Ground Ticket — tidak perlu tiket tambahan
  • Kunjungi museum sebelum naik ke candi agar lebih memahami konteks relief dan arsitektur
  • Luangkan waktu minimal 30 menit untuk melihat seluruh koleksi
  • Tersedia pemandu museum yang bisa menjelaskan dalam bahasa Indonesia dan Inggris
Tips
Tips Menikmati Sisi Historis Borobudur

Cara terbaik menghayati Borobudur bukan hanya sebagai wisata foto, tetapi juga memahami perjalanan panjang penemuan dan pemugarannya.

📜
Kunjungi Hidden Foot Corner

Sudut tenggara candi memiliki bukaan permanen yang menampilkan 4 panel relief asli Karmawibhangga. Satu-satunya kesempatan melihat kaki tersembunyi secara langsung.

🏛️
Mulai dari Museum Karmawibhangga

Kunjungi museum terlebih dahulu untuk konteks sejarah. Pengalaman di candi akan jauh lebih bermakna setelah memahami cerita di balik setiap batu.

🧭
Baca Relief Secara Pradaksina

Ikuti arah jarum jam (pradaksina) saat membaca relief — dimulai dari pintu masuk sisi timur. Ini adalah cara membaca yang benar sesuai tradisi Buddha.

📷
Bandingkan dengan Foto Historis

Simpan foto-foto historis di ponsel Anda sebelum berkunjung. Bandingkan kondisi candi dahulu dan sekarang — perbedaannya mengagumkan!

🔍
Perhatikan Tanda Restorasi

Batu-batu yang dipasang saat restorasi Van Erp vs UNESCO memiliki karakteristik berbeda. Pemandu berpengalaman bisa menunjukkan perbedaannya.

📖
Baca "The History of Java" karya Raffles

Tersedia versi digital dan terjemahan Indonesia. Membaca deskripsi pertama Borobudur oleh orang Eropa memberikan perspektif unik tentang penemuan candi.

Explore More
Jelajahi Warisan Budaya Dunia

Kunjungi Candi Borobudur dan hayati sendiri monumen yang telah menyaksikan lebih dari 1.200 tahun sejarah umat manusia.

🎟️ Pesan Tiket Resmi 🏛️ UNESCO Profile
L
Tim Penulis Expert
Sejarah & Cagar Budaya — www.lok.my.id

Artikel ini disusun oleh tim penulis yang berpengalaman dalam riset sejarah, arkeologi, dan pelestarian cagar budaya Indonesia. Konten diverifikasi berdasarkan sumber akademis, arsip Tropenmuseum, publikasi UNESCO, dan wawancara langsung dengan praktisi konservasi Borobudur.

📚 Sumber & Referensi: UNESCO World Heritage Centre — whc.unesco.org/list/592 · Krom, N.J. & Van Erp, Th. Beschrijving van Barabudur (1920–1931) · Raffles, T.S. The History of Java (1817) · Leemans, C. Boro-Boudour dans l'île de Java (1873) · Balai Konservasi Borobudur (BKB) · Koleksi Tropenmuseum / Museum Dunia, Amsterdam · Wikimedia Commons — Lisensi Creative Commons · detik.com — Arsip Konservasi Borobudur Memory of the World (2022) · BBC Indonesia — Kisah Keluarga Perawat Borobudur (2025)