Asal Usul Sejarah Kota Bantam (Banten)
Sejarah lengkap Kota Bantam (Banten) dari asal usul Kerajaan Sunda, berdirinya Kesultanan Banten 1526, kejayaan Sultan Ageng Tirtayasa
Asal Usul Kota Bantam
Dari Pelabuhan Rempah Kerajaan Sunda hingga Pusat Perdagangan Dunia Kesultanan Banten
Sekilas Kota Bantam & Kesultanan Banten
Banten — dikenal di dunia Barat sebagai Bantam — adalah kerajaan Islam maritim yang berdiri sejak abad ke-16 di ujung barat laut Pulau Jawa. Selama hampir tiga abad, Banten menjadi salah satu pusat perdagangan rempah-rempah terbesar di Asia Tenggara, terutama lada.
| Fakta & Data Penting | |
|---|---|
| 📍 Lokasi | Pesisir barat laut Pulau Jawa (Provinsi Banten) |
| 🏛️ Didirikan | Sekitar 1526 M oleh Maulana Hasanuddin |
| 👑 Pendiri | Sunan Gunung Jati & Maulana Hasanuddin |
| 💰 Komoditas | Lada (pepper) — primadona perdagangan dunia |
| 🎯 Puncak Kejayaan | Abad ke-16–17, era Sultan Ageng Tirtayasa |
| 👜 Ibu Kota | Keraton Surosowan, Banten Lama |
| ⛽️ Pelabuhan | Pelabuhan Karangantu |
| 🕐 Periode | 1526–1813 M (hampir 3 abad) |
| 🗑 Runtuh | 1813 — dihapuskan oleh Raffles |
| 🏆 Warisan | Cagar Budaya Nasional — Kawasan Banten Lama |
Nama “Bantam” sangat terkenal di Eropa abad ke-17. Bahkan ayam ras kecil “Bantam” dinamai berdasarkan kota ini karena pelaut Eropa pertama kali menemukan ayam kecil eksotis di pelabuhan Banten!
Asal Usul — Dari Kerajaan Sunda ke Kesultanan Islam
Sebelum menjadi kesultanan Islam yang megah, Banten adalah bagian dari Kerajaan Sunda (669–1579 M) — kerajaan Hindu yang menguasai Jawa bagian barat.
Banten Girang — Kota Lama Pra-Islam
Sebelum tahun 1526, permukiman bernama Banten Girang (“Banten Hulu”) sudah berdiri sekitar 10 km dari pesisir, di tepi Sungai Cibanten. Banten Girang merupakan pusat kekuasaan Hindu di bawah Kerajaan Sunda-Pajajaran, dipimpin seorang Pucuk Umun (penguasa lokal).
Perjanjian Sunda-Portugis (1522)
Pada tahun 1522, Raja Sunda menandatangani perjanjian dengan Portugis melalui kapten Henrique Leme untuk membangun benteng di Sunda Kelapa. Perjanjian ini memicu kecemasan Kesultanan Demak. Sultan Trenggana kemudian menugaskan Fatahillah dan Maulana Hasanuddin untuk merebut pelabuhan-pelabuhan Kerajaan Sunda.
Penaklukan Banten (1524–1527)
Antara 1524–1526, Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah) bersama pasukan gabungan Demak dan Cirebon merebut Pelabuhan Banten. Fatahillah kemudian merebut Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 dan mengubah namanya menjadi Jayakarta.
Lahirnya Kesultanan Banten (1526–1552)
Setelah merebut Banten, Sunan Gunung Jati memindahkan pusat pemerintahan ke pesisir dan membangun Keraton Surosowan. Pada 1552, ia kembali ke Cirebon dan menyerahkan kekuasaan kepada putranya, Maulana Hasanuddin, sultan pertama Kesultanan Banten.
Dalam Carita Sajarah Banten, diceritakan Maulana Hasanuddin memenangkan adu ayam (sabung ayam) melawan Pucuk Umun dari Banten Girang. Kemenangan ini memberi hak melanjutkan dakwah Islam di seluruh Banten.
Situs arkeologi Banten Girang terletak di selatan Kota Serang. Meski tidak sepopuler Banten Lama, situs ini menyimpan artefak Hindu pra-Islam yang penting untuk memahami akar sejarah Banten sebelum era kesultanan.
Daftar Sultan & Timeline Sejarah
Perjalanan Kesultanan Banten selama hampir 3 abad, dari berdirinya hingga dihapuskan oleh pemerintah kolonial Inggris pada 1813.
| No | Nama Sultan | Periode | Catatan |
|---|---|---|---|
| 1 | Maulana Hasanuddin | 1552–1570 | Pendiri, membangun Surosowan & Masjid Agung |
| 2 | Maulana Yusuf | 1570–1580 | Menghancurkan Pakuan Pajajaran 1579 |
| 3 | Maulana Muhammad | 1580–1596 | Wafat dalam penyerangan Palembang |
| 4 | Pangeran Ratu (Abu al-Mafakhir) | 1596–1651 | Sultan pertama bergelar “Sultan” |
| 5 | Sultan Ageng Tirtayasa | 1651–1683 | Puncak kejayaan, pahlawan nasional |
| 6 | Sultan Haji | 1683–1687 | Bersekutu dengan VOC |
Perjanjian Sunda-Portugis. Demak merasa terancam dan memulai kampanye ke Jawa Barat.
Sunan Gunung Jati dan pasukan Demak merebut Pelabuhan Banten dari Kerajaan Sunda.
Fatahillah merebut Sunda Kelapa (22 Juni), diubah menjadi Jayakarta.
Maulana Hasanuddin dinobatkan Sultan pertama Banten. Keraton Surosowan menjadi pusat pemerintahan.
Masjid Agung Banten dibangun — mahakarya arsitektur Jawa, Tiongkok, dan Eropa.
Maulana Yusuf menghancurkan Pakuan Pajajaran, mengakhiri Kerajaan Sunda.
Cornelis de Houtman dan 297 awak Belanda berlabuh di Karangantu — awal kolonialisme.
Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa. Masa kejayaan: armada laut, diplomasi internasional.
Perang saudara: Sultan Haji berkhianat, bersekutu VOC. Sultan Ageng ditangkap.
Belanda membangun Benteng Speelwijk sebagai simbol monopoli VOC.
Belanda menghancurkan Keraton Surosowan. Kesultanan tinggal simbol.
Raffles menghapuskan Kesultanan Banten secara resmi.
Pada 1629, Sultan Banten mengirim surat resmi kepada Raja Charles I dari Inggris meminta bantuan persenjataan untuk melawan VOC. Hubungan diplomatik Banten-Inggris berlangsung puluhan tahun!
Masa Kejayaan & Sultan Ageng Tirtayasa
Di bawah Sultan Ageng Tirtayasa (1651–1683), Kesultanan Banten mencapai puncak kejayaannya sebagai kekuatan maritim yang disegani di seluruh Asia Tenggara.
Sultan Ageng Tirtayasa — Pahlawan Anti-Kolonial
Sultan Ageng Tirtayasa (lahir 1631, berkuasa 1651–1683) adalah sultan ke-6 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia. Ia menolak monopoli VOC dan menjadikan Banten pelabuhan terbuka.
Serangan Gerilya
Melancarkan serangan ke Batavia. Pada 1656, dua kapal VOC dirampas dan ladang tebu Belanda dirusak.
Diplomasi Global
Menjalin hubungan dengan Inggris, Denmark, Turki Usmani, dan Mekah.
Armada Laut
Membangun armada bergaya Eropa, menguasai jalur pelayaran hingga Kalimantan Barat.
Pada 1682, Kesultanan Banten mengirim dua utusan resmi ke Inggris: Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana. Mereka bertemu Raja Charles II dan menerima gelar kehormatan Sir Abdul dan Sir Ahmad!
Peninggalan Bersejarah Banten Lama
Kawasan Banten Lama di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, menyimpan jejak kejayaan masa lalu.
Keraton Surosowan (1526–1808)
🏛️ Pusat Kekuasaan Kesultanan
Dibangun di atas lahan 3 hektar dengan bastion berbentuk intan di empat sudut — memberi julukan “Kota Intan” (Fort Diamant). Dihancurkan Belanda 1808, kini tersisa reruntuhan.
Masjid Agung Banten (1566)
🕌 Mahakarya Arsitektur Multi-Budaya
Atap bertingkat 5 menyerupai pagoda Tiongkok, dirancang arsitek Cek Ban Cut (Hendrik Lucasz Cardeel). Menara setinggi 24 meter dengan 83 anak tangga.
Benteng Speelwijk (1681–1684)
🏘️ Simbol Monopoli VOC
Dibangun saat Sultan Haji berkuasa, berbentuk segitiga menghadap laut. Nama dari Gubernur Jenderal Cornelis Speelman.
Peninggalan Lainnya
Keraton Kaibon
Dibangun 1815, kediaman Ratu Aisyah. Dihancurkan Belanda, kini tersisa reruntuhan.
Pelabuhan Karangantu
Pelabuhan terbesar ke-2 di Nusantara setelah Sunda Kelapa.
Museum Kepurbakalaan
Koleksi: keramik Tiongkok, mata uang kuno, meriam Ki Amuk, dan diorama.
Vihara Avalokitesvara
Vihara abad ke-16, bukti toleransi beragama di Banten masa kesultanan.
Meriam Ki Amuk
Meriam tembaga 2,5 m, hasil rampasan dari Portugis.
Mahkota Sultan
Koleksi Museum Nasional No. INV. E 619, artefak kebesaran kesultanan.
Keraton Surosowan disebut “Fort Diamant” oleh Belanda karena bastion di empat sudutnya berbentuk berlian. Inilah asal julukan Banten sebagai Kota Intan!
Galeri Foto Historis
Koleksi gambar bersejarah dari ukiran Eropa abad ke-16 hingga foto peninggalan masa kini.
Koleksi Multi-Era
Artefak & Peninggalan Masa Kini
Tips Wisata Sejarah Banten Lama
Panduan praktis untuk menjelajahi kawasan bersejarah Kesultanan Banten.
Datang Pagi Hari (07:00–09:00)
Udara sejuk dan cahaya ideal untuk fotografi. Banten Lama sangat panas siang hari — bawa topi dan air minum.
Mulai dari Masjid Agung Banten
Titik awal terbaik. Dari sini berjalan ke Surosowan (200 m), Museum, lalu Benteng Speelwijk (600 m).
Foto Menara dari Bawah
Menara 24 m sangat fotogenik dari angle low. Masuk via 83 anak tangga untuk panorama Banten Lama.
Kunjungi Museum Kepurbakalaan
Koleksi keramik Tiongkok, meriam Ki Amuk, dan diorama. Gratis masuk, buka 08:00–16:00.
Oleh-oleh Khas Banten
Cari sate bandeng, emping melinjo, dan gula aren — produk khas sejak zaman kesultanan.
Akses Transportasi
Dari Serang: 12 km (30 menit). Dari Jakarta: via tol Tangerang-Merak, exit Serang Timur, ±2 jam.
Untuk memasuki Keraton Surosowan diperlukan izin dari petugas Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII. Hubungi petugas di Museum Kepurbakalaan terlebih dahulu.
Lokasi & Peta
Kawasan Banten Lama terletak di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten — pesisir utara ujung barat Pulau Jawa.
Jarak dari Lokasi Penting
📍 Alamat Lengkap
Kawasan Banten Lama, Desa Banten, Kec. Kasemen,
Kota Serang, Provinsi Banten
📐 GPS: -6.0372, 106.1530
📞 Museum: Buka 08:00–16:00 WIB (gratis)
🌐 Info: Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII
Siap Menelusuri Jejak Kesultanan Banten?
Kunjungi Banten Lama dan rasakan atmosfer kejayaan salah satu kerajaan maritim terbesar di Nusantara.
🏛️ Info Cagar Budaya 📖 Baca di Wikipedia📚 Sumber Referensi
- Wikipedia — Kesultanan Banten
- Cornelis de Bruyn, Voyages de Corneille Le Bruyn (1711)
- François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indiën (1726)
- Uka Tjandrasasmita, Peninggalan Sejarah Kota Banten Lama
- Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VIII Banten & Jakarta
- Wikimedia Commons — Koleksi gambar domain publik & CC